Resensi Ajaran Rahasia Orang Jawa

Belajar “Rasa Sejati lan Sejatining Rasa”

Judul Buku : Ajaran Rahasia Orang Jawa
Penulis : Capt. R.P. Suyono
Penerbit : LKiS
Cetakan : 1, Februari, 2008
Tebal : V+122 Halaman
Peresensi : Iqro' Alfirdaus


Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang jawa nggone rasa. Artinya, hidup orang jawa berselimutkan rasa. Inilah salah satu indikasi bahwa orang jawa dalam segala sikap dan perilakunya rasa yang didahulukan. Rasa bisa dikatakan merupakan kulit danging. Maka, tidak salah kalau ada sebuah istilah raos rasa (rasa jawa). Yakni, suatu kesadaran hidup yang dilandasi oleh ke-jawa-an.
Orang yang hidupnya memelihara rasa, akan menanggung malu besar-besaran. Itulah sebabnya, olah rasa menjadi wajib dalam kehidupan Jawa. Seni olah rasa menjadi semacam ngelmu yang amat rahasia. Orang yang gagal mengolah rasa, hidupnya akan sia-sia. Karena orang tersebut menanggung beban rasa selama hidupnya.
Seni olah rasa yang sangat menggetarkan dalam praktik kehidupan kejawen adalah bawa rasa. Laku ini merupakan arena sakral untuk mengupas tentang rasa Jawa yang terdalam. Yang menjadi tonggak pembicaraan adalah adalah surasa, yakni rasa yang hebat. Rasa yang bernilai lebih, yakni rasa sejati dan sejatining rasa yang merupakan titik tolak ajaran kebijaksanaan orang Jawa.
Rasa sejati dan sejatining rasa adalah bangunan spiritual yang penuh makna. Orang yang tahu ini belum tentu mampu menghayati. Apabila hanya sekadar tahu kulitnya, atau bahkan salah memahami, hidupnya mungkin tak akan menggunakan rasa. Maka ada orang yang hidup yang sebenarnya tak hidup. Mereka hidup raga saja, rasa telah hilang. Mereka telah mati rasanya.
Dalam segala bentuk rasa akan berkibar. Rasa akan bercampur dengan keinginan, pikiran, dan hawa nafsu. Semua ini hampir sulit dipisahkan. Hanya bisa dibedakan ketika seluruh rasa itu lari dari rasa sejati dan sejatining rasa. Oleh karena itu, untuk memahami yang pelik ini perlu paham kejawen. Inti ajaran kejawen adalah puncak penghayatan mistik. Baik mistik maupun kejawen adalah dua hal yang tak terpisahkan dengan kebatinan Jawa.
Rasa sejati dan sejatining rasa tak dapat dikatakan. Kalau ada yang dapat menerangkan, itu hanya bersifat lahir. Sebab, rasa sejati dan sejatining rasa sebenarnya bersifat subjektif, tak terbatas. Mungkin hanya bisa dikatakan oleh seseorang yang benar-benar paham atas rasa. Rasa adalah amat rahasia. Ada pula yang menyebutnya rahsa. Antara keduanya sangat mirip. Keduanya amat halus, terkait sukma dan ruh. Pada saat rasa megalami kulminasi, baru sampai rasa sejati.
Dengan rasa sejati, orang Jawa dapat melakukan kontak langsung dengan kesetiaan rasa. Rasa sejati yang dapat menemukan sejatining rasa. Rasa sejati adalah kawasan batin dalam jagad emosi. Wilayah ini amat intuitif, yang menuntun rasa khadim, yang menuntun pribadi pada jenjang mistik tingkat tinggi. Tatanan ini realitas batin yang tenang menuju pada intinya.
Jika rasa sejati dan sejatining rasa telah diolah dengan halus akan memunculkan feelling. Yakni daya intuitif yang peka terhadap segala fenomena. Jika rasa mulur mungkret (membesar-mengecil) maka rasa sejati dan sejatining rasa tak kenal itu. Yang terakhir ini yang abadi, memomong rasa yang lain. Rasa lain yang amat kasar dibimbing oleh rasa sejati dan sejatining rasa menuju pada titik tertentu sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan ketuhanan. Karena rasa ini memadukan mikrokosmos dan makrokosmos hingga sampai pada tataran sukma sejati (ulmate of the soul).
Orang Jawa yang bisa memahami dan menghayati rasa sejati dan sejatining rasa akan menjadi man of ulmate truth, artinya manusia sejati. Dia itu sebagai jalma pinilih, istimewa atau sakti mandraguna. Karenanya, bukan tidak mungkin kalau dia akan tahu sadurunge winarah, maksudnya sebelum ada kejadian telah tahu apa yang mungkin terjadi. Dia sebagai jalma limpat semprapat tamat, tahu sedikit saja telah paham hal-hal lain yang lebih luas. Dengan berbekal rasa sejati dan sejatining rasa itu, yang bertindak dalam hidup tak sekedar dirinya, melainkan ada hembusan suara Tuhan.
Oleh karena itu, buku yang berada di hadapan pembaca ini sangat menarik untuk dibaca karena menjelaskan berbagai fenomena dan cara berpikir orang jawa yang bertitik tolak dari rasa sejati dan sejatining rasa sebagaimana di atas, hingga pada keyakinan orang Jawa mengenai paraning dumadi, yaitu asal-muasal manusia dan hendak ke mana setelah kematiannya. Yang kemudian dari ajaran ini, lahir fenomena khas orang jawa yang disebut klenik atau ilmu kesaktian, yang sampai saat ini masih diyakini dan dijalankan orang Jawa.
Dengan bahasa yang sangat sederhana, pembaca akan sangat mudah untuk memahami buku ini. Selain itu, penulisnya sangat jelas membeberkan bagaimana orang Jawa menjalankan ilmu kerahasiannya (rasa sejati dan sejatining rasa) ini dalam kehidupan. Akhirnya, buku ini bukan menunjukkan bahwa orang Jawa lemah-lembut dan sakti mandraguna karena ajaran-ajarannya, sebab orang Jawa sama saja dengan manusia lain yang berada di dunia ini. Ia bisa lembut dan kasar, salah dan benar, serta sakti mandraguna. Yang benar hanya kehidupan itu sendiri. Namun, kita akan mengenal bahwa ajaran orang Jawa berangkat dari rasa sejati dan sejatining rasa yang lebih mendambakan cinta.

4 komentar:

noerce mengatakan...

saya orang jawa tulen, tp rasa-rasanya blm "ngejawen" tenan kiy...^_^

Effendi BP mengatakan...

Banyak ungkapan Jawa yang sering saya dengar, dan menurut saya sangat filosofis. Seperti ungkapan,"nrimo ing pandum" bukan sekedar bersedia menerima, tapi kebersahajaannya sangat dalam menyentuh rasa.

Anonim mengatakan...

KEJAWEN : Keyakinan Jawa Tulen

Kesucian adalah kosong yg tidak dikotori oleh apapun

forum mengatakan...

mksh bnyk. ,
info yg sgt mnrk dan brgna. , :)