Film Menculik Miyabi dan Kapitalisme

Film yang berjudul Menculik Miyabi kalau sukses akan dirilis oleh Maxima Picture pada akhir tahun 2009 ini. Respon terhadap rencana film tersebut banyak menuai opini pro dan kontra di masyarakat. Juga ihwal kedatangannya ke Indonesia pada tanggal 15 oktober besok untuk memulai syuting.
Kedatangannya pada bulan oktober ini menimbulkan reaksi serius dari berbagai pihak. Hal itu disebabkan karena salah seorang pemain dalam film itu merupakan bintang ternama dalam film syur yang telah go public di Jepang, Maria Ozawa.
Kedatangan Maria Ozawa atau yang populer dengan nama Miyabi ke Indonesia untuk syuting film Menculik Miyabi sebenarnya tak perlu ditanggapi secara paradoks dan parsial. Publik perlu menyikapinya secara out off box. Tegasnya, dalam memandang suatu persoalan tidak hanya pada satu sisi (monolitik), melainkan dari berbagai multidimensi.
Masalah film Menculik Miyabi esensinya berbicara masalah tokoh (peran). Karena latar belakang Miyabi itulah banyak mengundang kontroversi di masyarakat. Di sisi lain, masalah tersebut merupakan persoalan sihir bisnis. Insan perfilman tampaknya memanfaatkan kepopuleran Miyabi demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dan film tersebut akan laku atau bahkan laris di pasaran. Walaupun, dalam proses produksi film tersebut juga mengeluarkan biaya yang banyak, apalagi untuk mendatangkan bintang populer seperti Miyabi. Persoalan ini sebenarnya merupakan persoalan strategi.

Industri film memang industri yang padat modal. Di Indonesia, untuk membuat film dengan bahan baku 35 mm, diperlukan biaya sekitar 3-5 miliar, bahkan ada yang lebih, seperti film Ada Apa dengan Cinta (AAC) yang meghabiskan dana sekitar 10 miliar.
Menurut salah seorang produser sebuah PH (Production House), bisnis film di Indonesia adalah bisnis yang tidak visibel. Artinya, bisnis tersebut tidak menjanjikan dibandingkan dengan bisnis perbankan atau valas. Modal yang berputar tidak akan kembali dalam hitungan hari atau minggu, tetapi butuh waktu beberapa bulan bahkan tahunan. Akhirnya, industri film di Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang pemilik modal. Merekalah yang dengan sesuka hati membentuk persepsi masyarakat tentang nilai-nilai baik dan benar.

Ambivalen
Film Menculik Miyabi, selain mengundang pro dan kontra di masyarakat, ternyata juga menimbulkan sikap ambivalen sebagian orang. Satu sisi, realitas tersebut merupakan chaos bahwa kapitalisme menyusup di industri perfilman kita di Indonesia. Dan, tak dapat dielakkan jika industri film menjadi sirkuit produksi yang sangat subur dan strategis bagi kaum kapitalis.
Sedangkan di sisi lain, fenomena tersebut menunujukkan eksistensi daya kreativitas dan progresivitas dunia perfilman kita di Indonesia yang perlu diapresiasi. Akan tetapi, beban inilah yang seharusnya dipikul oleh industri film dan seluruh atmosfirnya seperti penulis skenario, sutradara dan produser. Mereka dituntut untuk menghasilkan film yang berkualitas, edukatif, kreatif dan memberikan sumbangsi konstruktif dalam mencerdaskan bangsa. Bukan justru menafikan unsur terpenting dalam sebuah film.
Hal tersebut menjadi penting karena, secara sadar atau tidak sebagian masyarakat kita sebenarnya telah terbiasa mengambil bagian dalam suatu tayangan film dan mereproduksi bahkan pengkultusan terhadapnya. Dan sangat riil, bahwa film memiliki daya yang mampu membius life style kelompok besar masyarakat yang mengonsumsinya. Hal yang membuat pengaruh film begitu kuat bagi masyarakat adalah karena ia terbangun dari sejumlah elemen penting, di antaranya adalah globalisasi, komunikasi, informasi, hiburan, dan komersialisme.
Implikasi sosialnya mampu melahirkan realitas trendsetter (pengkiblatan). Sebagai hasil ikutannya, aktor dan aktris film menjadi figur baru di tengah gempuran modernisasi. Kehadiran mereka di dunia film dengan berbagai life style yang dibawanya menginspirasi publik untuk berobsesi kehadiran mereka pula dalam kehidupan praktis sebagai model. Inilah realitas yang benar-benar nyata di masyarakat.
Sebab itulah keresahan dirasa muncul di masyarakat, seiring reaksi keras yang disampaikan MUI beberapa waktu lalu terhadap rencana film Menculik Miyabi. Akan tetapi, hal tersebut diharapkan menjadi cambuk bagi seluruh kru film dan atmosfirnya dalam menghasilkan karya film yang apresistif dan berbobot. Meskipun Citra Miyabi sebagai bintang film syur akan mendapat kesan destruktif di kalangan masyarakat dan efek negatif terhadap film tersebut, akan tetapi opini inilah yang diharapkan menjadi off the record dan mengalami perubahan persepsi ruang yang berbeda dari yang dikenal publik sebelumnya tentang Miyabi. Sehingga tidak akan menimbulkan trendsetter terhadap Miyabi dalam praksis realitas. Inilah yang seharusnya menjadi agenda utama industri film untuk diprioritaskan. Dengan tujuan untuk menunjukkan kepada publik sisi Miyabi yang berbeda.


Tidak ada komentar: